Mei empat tahun lalu
adalah ketika jasad keriput meringkuk menahan sakit
rambut lusuh uban memutih
tanpa gerak mampu dia cipta sendiri
mei, ya Allah..
bulan sama nuansa beda
sosok penuh cinta
figur penuh kasih tiada dua
ingatannya tertuang pada adzan kumandang, aku wudhukan dia
aku kenakan selendang putih menutup auratnya
sholatnya adalah isyarat
ruku, i'tidal dan sujudnya adalah kedipan mata
tetapi selalu kulihat mata itu berkaca melepaskan doa
sesekali dia berbisik; duitmu masih untuk merawat dan belikan obat untukku?
aku tersenyum menjawab berbisik lirih; bu..andai rumah sakit ini dijual, aku beli untukmu. andai pabrik obat itu dijual, aku bayari buatmu.
wajah tua keriput selimut cahaya itu menjawab tersenyum; kamu paling bisa menghibur.
dan mei, ya Allah..
ruh ibuku, Engkau ambil dengan senyuman.
Tanpa sebutir tangis kuizinkan jatuh pelan-pelan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar