Kamis, 17 Oktober 2024

12 Maret 2014

Meredalah segala jejakmu

terekam sang waktu berlalu

masa lalu adalah keindahanmu hari ini

sebab esok adalah tantangan dan harapan milik Tuhan

engkau, nikmati dan syukuri seutuhmu kini

aku menyimakmu

mengenangmu dengan doa terbaikku

tanpa dendam

tanpa kebencian.

12 Maret 2014

Ingatkah engkau kepada, angin memberimu nafas lega

ingatkah engkau, kepada air membebaskanmu dahaga

ingatkah, engkau kepada tanah memberimu pijakan tegap menatap hidup

ingatkah engkau kepada langit, menjatuhkan terik dan hujan

dan ingatkah engkau, kepada ciuman pertamamu untuk sang kekasih

dan ingatkah engkau, kapan terakhir ciumanmu mesra penuh kasih untuk sang bunda

12 Maret 2014

Meresapi diam

lalu kutemukan bisu memberi jawaban

duhai..

adakah engkau benar-benar sepi

tanpa celoteh antara engkau dan sisi lainmu?

duhai..

se-sunyi apa sendirimu adalah nyanyian jiwa tanpa huruf

tanpa suara

aku-kah dalam ingatanmu terkenang?

ataukah dia, kau sucikan?

duhai..

matamu selalu jujur bicara

12 Maret 2014

Selamat pagi, cahaya

rupamu remang terasa

sinaran perak memendar ataukah

membiarkan gerimis pagi berdendang?

hemm...aku simak alam bernyanyi riang

secangkir kopi hitam membuat renungku semakin dalam.

11 Maret 2014

Kini aku memahami

kehilangan bukan berarti tak memiliki

ia sekedar pergi

sekedar tak bersama lagi di sisi diri

11 Maret 2014

Duhai, air mata

untuk apa engkau melaju bila tanpa ejaan bersih makna?

dendam, hilangkan

benci, habiskan

nanti kepada hujan

cukupkan jiwamu memahami

bahwa ketenangan adalah kehadiran

saat kelembutan gerimis menyemai teduh wajah bumi

mengenang sahaja

bahasa langit

takan pernah diam.

Duhai, air mata..

tidakkah engkau pahami

masih ada retasan jujur selain derai jujurmu

bening embun di ujung pagi

Sejarahku akan usang lalu hilang

di bumi gelap dan terang

kau dan aku dalam catatan buku Tuhan

tiadalah sahaja bahagia tanpa maaf memaafkan

berbahagia, duhai jiwa yang kusayang

kelak, semoga jejakmu di surga

kutemui rindang bertahta ampunan

syukurku memuji

tasbih-tasbih terpilin asma nan bersih

duhai, jiwa yang tenang

hendak ke mana kau akan pulang

bila bukan kepada Tuhan semesta alam

kepada embun yang bergejolak hilang

kutitipkan senandung doa-doa kasih sayang

duhai, jiwa-jiwa yang terkasih mengasihi

sadari saja

sang waktu akan datang

menghilangkan.

11 Maret 2014

duhai hujan selimuti aku dengan basahmu

biar aku memahami

lembut itu gerimismu.

Maret 2014

Apakah ada kata yang bisa aku pinjam

mungkin hurufmu?

sekedar kutitipkan rasa lara di ejaanmu

dan pena sang pujangga pun patah

menemui hatiku meretas merah darah

adakah kalimatmu bisa aku pinjam?

mungkin dalam kamusmu

aku bisa titipkan luka.

11 Maret 2014

Itukah engkau

pernah mengajakku menari di bawah rinai gerimis?

mengulum rindu buaian

itukah engkau

kini merajam rinduku patah diam?

itukah engkau

kini sempurna memberiku cinta khayalan?

sedang aku, kau biarkan menikmati basah didekap hujan

sendirian?

dan aku menjadi air

serupa air

mewujud aku air

11 Maret 2014

Kemarin

utuh hatiku untukmu

hingga kau bebas membuat coretan lara di dadaku

hari ini, tidak lagi

tetapi kau pun bebas pergi meninggalkan segala kenangan matahari saat bersamaku

esok, aku akan selalu tersenyum untukmu

meski tak harus aku tanam tebu di pinggir bibirku

11 Maret 2014

Mestinya kau tak lagi perlu berujar kata maaf

bila kesalahan bisa kau jadikan teladan

dan jengahku

kau pahami benar

aku bukan malaikat, sayang

11 Maret 2014 

untungnya aku mengerti

bila keindahan abadi adalah perubahan yang pasti

begitupun dengan segalamu

aku hanya perlu memahami

kelak, bila sadarmu terbit kembali

percayalah

lorong hatiku masih ada celah untukmu

rindu bersih

merindui putih

11 Maret 2014

Sejarah pagi

warna bibirku kopi hitam pahit manis mewangi

dan embun yang telah pergi

jejak-jejak bening

bukan ruang kita lagi

aku di sini dan

entah denganmu kini

sejarah sang pagi

kopi hitam menemani

10 Maret 2014

Dan aku biarkan kau menantang sang malam

menerjemahkan sepimu sendiri

kelak, ketika nafas tak lagi sanggup kau hempas

aku pasti hadir mengasuh doa jiwaku lepas

10 Maret 2014

bisakah aku masih sanggup menghargaimu sementara segala janji dan sumpahmu sudah kau dustai sendiri?

tidak, sayang

dalam sendiriku

aku masih bisa menciumi aroma wangi kesturi

pada mimpi dan harap cinta yang pernah kau tebar

dalam kesendirianku

aku masih bisa menari bersama hujan malam hari

dan pada butiran air langit itu, aku berbisik; sampaikan maaf dan cintaku kembali kepada Tuhanmu

meskipun terlambat menyadari

10 Maret 2014 

Dan engkau yang telah benar menyadari bahwa dirimu hanya makhluk Tuhan

pernahkah kau rasa Dia cemburu kepadamu,

ketika sujudmu masih ada dia dikenang?

ah...aku lupa

bila engkau masih memahami cemburu

sebatas bara di dada

hemm..dunia kata-kata

hurufku menjadi lumpuh

meraih cahaya

10 Maret 2014

Aku tidak bisa berpura-pura menjadi mulia memberimu maaf atas luka yang telah kau cipta

bagiku, kau pergi dan berlalu

takan pernah bisa nodai senyumku

lakukan maumu

puaskan hasratmu

aku tetap di sini

pada kamus cintaku tanpa pamrih.

10 Maret 2014

Aku simak setiap kata dari kalimatmu

tentang rindu dan cinta pada cahaya

tentang sakit dan lara mendera

bagiku, itu masih biasa

tetapi, huruf-huruf bisu yang tersimpan di kedalaman jiwamu

lebih membuatku khawatir dan takut menduga

sebab bisa jadi

kau akan menjadi hati yang beda

duhai sang jiwa..

pahamkah engkau

tentang dirimu yang lain dan tak sama?

Demi harga diri

aku biarkan kau berlalu dan pergi

mungkin kau akan lebih memahamiku saat jauh

tetapi kelak saat kita harus pulang kepada Tuhan

jangan lagi ada kata maafmu

sesal yang terlambat adalah siksa paling sempurna

4 Maret 2014

Tidak ada agama pada cinta

semua hati merasakan sama

rindu dan cemburu

pembeda itu hanya satu;

apakah kau memahami, untuk apa mencintai dia?

3 Maret 2014

Sebab kaki bersihmu sudah aku cium, duhai wanitaku..

bila juga kau harus beriku luka

jangan luka sederhana.

3 Maret 2014

Bila aku titipkan gemuruh lara dadaku pada laut

niscaya laut tanpa gelombang

bila aku titipkan luka hatiku pada matahari

niscaya matahari berhenti menerangi

tetapi

biar saja aku simpan luka laraku pada laut pahamku

bila aku titipkan cinta dan rindu dendamku

di hatimu.

3 Maret 2014

Mungkin perlu sesekali kau tengok riwayat masa lalumu

sekedar menyimak catatan buku hatimu

pasti pernah ada lukisan bahagia dan gores luka di sana

sesekali perlu kau simak lagi dan yakinkan hati

biar hari ini kau pahami pasti

apa itu sakit dan lara hati

dia dan dia yang beda bagi jiwamu

memberi rasa yang sama.

3 Maret 2014

Hanya perlu memahami

hingga aku biarkan engkau menjadi seutuh dirimu

hanya perlu menerima

bila memang pilihanmu pergi dan berlalu

pada bunga yang mewangi

aku menanti dia memahami harum sendiri

aku yang kau hilangkan ataukah engkau yang harus aku lupakan?

  19 maret2013 Sembunyikan wujudmu pada tanah yang gersang sebab segala sesuatu yang tumbuh dari biji yang tidak tertanam tidak akan berbuah...