Sabtu, 19 Oktober 2024

 Tidak ada seorangpun yang bisa menghukumi hati

tetapi engkau yang lantang menolakku

merajam air mataku

nyatanya tak pernah puas

menilai hati cintaku adalah egois, tanpa kejujuran dan munafik

laraku berkembang lagi

mewangi di puncak hati

tetapi sayang

agamaku melarang dendam dan kebencian

dan aku sudah memaafkan air mataku sendiri

yang jatuh tanpa kau peduli

tetapi sayang

entah siapa pelanggar sumpah janji atas nama Tuhan

lisan tanpa ilmu

akan mencabikmu luka lara sendiri

aku bersama hujan

masih bisa tersenyum dan menari.

 Ruang dialog kita

sudah bersih

dari huruf dan kata

bahasa lain

mengurai gema sisi batin

aku kasmaran

pada tarian hujan semalam

 Itukah engkau

sudah mendiami kenangan lupa

ataukah aku 

terkesima pada jengah dan malu

merindui cemburu.

 Bersamamu

aku sudah menjadi bukan diriku

hilang tanpa bayangan kukenal

hari ini dan esok

kita dalam sisa kenangan

aku asuh dengan doa ampunan.

Kemarin

isakku kau abaikan

kini, kau lelah sendiri 

terpenjara sesal perih

esok atau kapan pun itu

aku biarkan sang waktu berlalu

meraup lupa kita

kembali lugu

pada hujan

aku tebar pertanyaan

engkau siapa aku

dan aku bukankah sudah bukan siapamu?

Ini hidup

ada dan hilang hal biasa

derita dan bahagia

lumrah saja

justru karena semua sementara

sekejap singgah seindah embun menyentuh mawar jingga

kau dan aku hanya perlu berlaku baik semata

hemm...dalam kenang harum kopi seduhanmu

dunia bahasa

ruangan rasa

ingatkah engkau pada embun yang datang lalu pergi subuh tadi?

Aku sudah mencoba mempertahankan cinta

tetapi

matamu penuh bara

hatimu memerah amarah

luka sudah aku rasa tak biasa

tetapi maaf

tak inginku lagi bermain cinta

yang tak pernah kau pahami ilmunya

aku suka melihatmu bahagia bersama dia

dan percayalah, duhai jiwa..

Tuhan beserta hati yang 

teraniaya.

Ruang rinduku padamu

bersih

tanpa kata masih dan mungkin

sebab aku memilih sudah meraup doa-doa cinta

menjadi pencinta untukmu

tanpa hasrat paksaan memiliki

biarlah hujan datang dan pergi

jangan kau caci maki.

Segala pahammu aku hargai

sehingga kau yakini sebutir air mata bisa padamkan api

keyakinanmu aku hormati

sehingga kau nyatakan 

pungguk bisa meraih bulan

resah dan tenang

hanya kau seorang menikmati

bilakah engkau sudah tepat pahami segalamu

dari tiada

ada dan nanti diam terbujur kaku?

kemanakah kembali

aku tidak akan pernah pergi

tetapi hanya pulang.

 Riwayat manusia

derita atau bahagia

engkau pilihlah

sehat cerdas akal patuhi nurani

sebab kebebasan apapun milikmu

tetap tersekat sabda-sabda Tuhan

etika membuat indah

moral menjunjung harga diri.

Tetapi memang bukan engkau

sejati kekasihku

dalam gelap dan terang

makna menebar rasa

menduga cahaya

segalaku kepadamu,duhai..

sudahlah hilang.

Memahamimu

tidak sekedar kamu kutemui

sisi lain jiwamu

lalu aku buang rasa sunyi sepiku

sebab Tuhanku maha sendiri dalam kesendirian bersih suci

kelak, bila keinsyafan ruhani sudah kau diami

air mata menjadi bahasamu surgawi.

Apakah hurufmu masih mencari makna

keraguan mestinya koma

singgahilah jeda

bukan rehat biasa tetapi

bening rahasia kau raih, tentang jiwa

atas segala pencarian kata dan makna

adakah cita rasa hidup terindah selain pengabdian dan kepatuhan

dan aku tak lagi perlu bertanya

kepada siapa

singgahilah jeda

menyimak hening dalam tafsir akal hatimu bening.

Kesabaran adalah puncak kefasihan hati dan ridha atas segala takdir Tuhan adalah mahkota iman sejati.

Bahwa apapun yang terjadi dan melingkupi cerita kita

sudah pas dan indah menurut ilmu dan kuasa Tuhan.

kita hanya perlu memahami dan meyakini bahwa Tuhan tidak mungkin memberi beban di luar sanggup kita.

Menimbang riwayat sendiri

menyimak baik dan buruk

menghadirkan dosa dan malu

tercenung di ufuk pagi

dalam renungan khawatir cemas hati

mengharap ampunan pencinta sejati

aku, kau dan dia

entah sehebat apa menanggung banyak dosa

aku pilih jalanku

menundukkan nurani

cahaya kepada cahaya.

Mulailah hal-hal baik dari dirimu sendiri

seindah apapun kata-kata

takan pernah mengalahkan perbuatan nyata.

apakah masih berguna sesal kau tangisi?

tidak ada, sayang..

memahami air mata doamu sendiri 

kau gamang meraup makna

bahasamu bukan hurufku

kalimatmu bukan aksaraku

pada janji yang kau ingkari

aku takan membenci.

 Sudah aku titipkan pengharapku tentangmu

pada hujan yang kau buang

pada kabut yang pernah meringkus ragaku diam

pandanganku menembus liukan jalan

menuju kenanganku bersamamu

bukan memanjakan gemuruh rindu

tidak, sayang..

kekasihku sejati

bukan kau seorang

kekasihku sejati takan pernah buatku lara temui tangisan

ia selalu sepi, sunyi, hening, bening dan sendirian

Ramai kotamu

gerimis hilangkan kabut

menjejaki kenangan 

rusak

mengulas senja

mengundang temaram

menyinggahi malam

menyusuri kotamu

bukan untuk kembali

menemui jejakku yg hilang di himpitan

hujan tangisan.

Tak lagi mengenal sakit hati

cintaku pada wujud debumu

sebab

aku lebih bahagia memahami cemburu

sebagai indahnya rasa butuh

tak lagi mengenal

rindu dan cemburu semu

sebab

aku adalah wujudmu

pada rupa tak satu.

Pada kedipan mataku terakhir

hanya dia inginku hadir

engkau dalam nuansa cinta bumi dan lelakiku

cukuplah berbisik

doa-doa bening

kelak, saat sungging kecil senyumku

merupa bisu terukir.

 Sebab aku

sebutir air

seluruhku air

seutuhku hanya air

dalam duga dan yakin

aku biarkan semua cerita jernih mengalir

menemui bening masing-masing

lupa dan terlena adalah soal lain.

Engkau tak lagi perlu menanti bayaran atas lelahmu mencari dia

tak usah lagi menggugat pamrih atas sabarmu

menemui cinta dia

kekasih sejati

pasti memahami

rindu pasti pulang

dan kembali

bukan hilang dan pergi.

Tak lagi bisa mengutip ayat-ayat suci Tuhan

sebab

seutuh wujudmu adalah sabdaNya

sebab

aku sendiri adalah rahasiaNya

terbaca asing dan dikenal dalam kenang yang takan bisa kau pahami utuh sempurna

sementara seduhan kopi pagimu

masih aku rindui

dalam bayangan.

Saat semua yang ada dan terjadi mampu kita syukuri

tidak ada alasan lagi berkeluh kesah

saatnya engkau meraih bahagia

menjadi manusia seutuhnya insan Tuhan semesta

apakah ada derajat paling mulia

selain menjadi hamba Tuhan sang pencipta?

bila sama arah tujuan hidup kita

aku pasti bahagia bermain dan menari bersama hujan

denganmu saja.

 Seperti biasa

kau gagal pahamiku lagi

dan risauku pergi.

  19 maret2013 Sembunyikan wujudmu pada tanah yang gersang sebab segala sesuatu yang tumbuh dari biji yang tidak tertanam tidak akan berbuah...