19 Juni 2013
Meniru kesantunan Tuhan bicara;
'afaroaitumul maa alladzi tasyrobun, a-antum anzaltumuhu minal muzni am nahnul munzilun'
apakah kamu tidak memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari mendung pekat itu ataukah kami?
Betapa santun kalam itu
setia pada etika kelembutan bahasa
kepada kekasih, aksaramu jangan terburu berujar; i love you
sebelum gemingmu;
'duhai cinta... izinkan aku mengecup sebutir debu yang menempel di ujung sandalmu'
bagaimana..?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar